<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ARY HIDAYAT</title>
	<atom:link href="http://aryhdy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aryhdy.wordpress.com</link>
	<description>The Journal Journalist</description>
	<lastBuildDate>Thu, 27 Aug 2009 12:14:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='aryhdy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/69327754dcc22c58f3177c3a22e94c51?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ARY HIDAYAT</title>
		<link>http://aryhdy.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Tiga Griya Pijat Disegel</title>
		<link>http://aryhdy.wordpress.com/2009/08/27/tiga-griya-pijat-disegel/</link>
		<comments>http://aryhdy.wordpress.com/2009/08/27/tiga-griya-pijat-disegel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 12:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryhdy</dc:creator>
				<category><![CDATA[HOT NEWS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryhdy.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[JANJI Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menindak tegas industri hiburan yang melanggar jam operasional selama bulan Ramadhan akhirnya dibuktikan. Memasuki pekan pertama di bulan Ramadhan ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta telah menyegel tiga Griya Panti Pijat, yakni griya pijat De Cleo di Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara, griya pijat di Hotel Losari kawasan Panglima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryhdy.wordpress.com&blog=2271294&post=86&subd=aryhdy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>JANJI Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menindak tegas industri hiburan yang melanggar jam operasional selama bulan Ramadhan akhirnya dibuktikan. Memasuki pekan pertama di bulan Ramadhan ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta telah menyegel tiga Griya Panti Pijat, yakni griya pijat De Cleo di Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara, griya pijat di Hotel Losari kawasan Panglima Polim Jakarta Selatan, dan griya pijat di Hotel Fortuna Tamansari Jakarta Barat.</p>
<p><span id="more-86"></span>Griya pijat De Cleo disegel pada 24 Agustus, griya pijat di Hotel Losari disegel pada 22 Agustus, sedangkan griya pijat di Hotel Fortuna disegel pada 21 Agustus. &#8220;Tiga tempat itu sudah kita segel karena melanggar ketentuan yang berlaku. Dan mereka tidak diperkenankan membuka usahanya selama Ramadhan,&#8221; kata Arie Budhiman, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Rabu (26/8).</p>
<p>Sanksi yang akan dikenakan tersebut telah sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2004 tentang Kepariwisataan dan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 98 Tahun 2004 tentang Waktu Penyelenggaraan Industri Pariwisata di Provinsi DKI Jakarta.</p>
<p>Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengaku cukup apresiatif dengan adanya tindakan tegas tersebut. Sebab, tindakan itu setidaknya bisa menimbulkan efek jera bagi para pelaku usaha industri pariwisata lainnya. Karena itu, secara tegas gubernur telah menginstruksikan kepada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta untuk melakukan patroli rutin. &#8220;Satpol PP dan jajarannya, saya minta terus melakukan razia setiap hari,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Seperti diketahui, sesuai Perda Nomor 10 Tahun 2004 tentang Kepariwisataan dan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 98 Tahun 2004 tentang Waktu Penyelenggaraan Industri Pariwisata di Provinsi DKI Jakarta, seluruh industri hiburan jenis klab malam, diskotek, mandi uap, griya pijat, permainan mesin keping jenis bola ketangkasan, dan bar, harus tutup selama Ramadhan hingga satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri.</p>
<p>Sedangkan untuk jenis usaha industri hiburan di luar tersebut di atas, ada pengaturan jam operasional selama Ramadhan, yakni untuk jenis usaha karaoke dan musik hidup (live musik) mulai pukul 20.30 hingga pukul 01.30. Untuk usaha bola sodok yang satu ruangan dengan usaha karaoke dan musik hidup, mulai pukul 10.00-24.00. Sedangkan usaha bola sodok yang berlokasi satu ruangan dengan usaha klab malam, diskotek, mandi uap, griya pijat, permainan mesin keping jenis bola ketangkasan dan usaha bar, wajib tutup selama Ramadhan.</p>
Posted in HOT NEWS  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryhdy.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryhdy.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryhdy.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryhdy.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryhdy.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryhdy.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryhdy.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryhdy.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryhdy.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryhdy.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryhdy.wordpress.com&blog=2271294&post=86&subd=aryhdy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryhdy.wordpress.com/2009/08/27/tiga-griya-pijat-disegel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84b31c36157052502f223ee928c856f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ary Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masih Banyak Jalan Rusak</title>
		<link>http://aryhdy.wordpress.com/2009/08/27/masih-banyak-jalan-rusak/</link>
		<comments>http://aryhdy.wordpress.com/2009/08/27/masih-banyak-jalan-rusak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 12:04:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryhdy</dc:creator>
				<category><![CDATA[HOT NEWS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryhdy.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[SIAPA bilang jalan di Jakarta sepenuhnya sudah mulus. Buktinya, masih banyak ruas jalan di ibukota yang masih &#8216;jerawatan&#8217;. Buntutnya, tak sedikit pula pengendara sepeda motor yang terjatuh karenanya.
Memang, tak sedikit pula ruas jalan yang kini berubah mulus. Tapi, sebanding pula dengan jalan yang rusak. Kondisi ini tentu banyak dikeluhkan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor.
Tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryhdy.wordpress.com&blog=2271294&post=83&subd=aryhdy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SIAPA bilang jalan di Jakarta sepenuhnya sudah mulus. Buktinya, masih banyak ruas jalan di ibukota yang masih &#8216;jerawatan&#8217;. Buntutnya, tak sedikit pula pengendara sepeda motor yang terjatuh karenanya.<span id="more-83"></span></p>
<p>Memang, tak sedikit pula ruas jalan yang kini berubah mulus. Tapi, sebanding pula dengan jalan yang rusak. Kondisi ini tentu banyak dikeluhkan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor.</p>
<p>Tak hanya membahayakan keselamatan, tetapi mereka terpaksa merogoh kocek lebih dalam lagi untuk memperbaiki kondisi sepeda motor yang rusak lantaran terperangkap lubang.</p>
<p>Selama ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berusaha memperbaiki kekurangan, termasuk kondisi jalan yang selalu dipermasalahkan. Tak sedikit dana yang dikeluarkan untuk memperbaikinya.</p>
<p>Tak heran bila Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, berujar kalau semua ada proses. Itu lantaran kondisi keuangan yang mepet. Makanya, perbaikin jalan pun dilakukan bertahap.</p>
<p>Ya, mudah-mudahan saja, semua mampu teratasi, setidaknya mampu mengurangi angka kecelakaan dan juga mengurangi kocek pengguna jalan yang terus bobol.</p>
Posted in HOT NEWS  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryhdy.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryhdy.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryhdy.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryhdy.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryhdy.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryhdy.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryhdy.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryhdy.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryhdy.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryhdy.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryhdy.wordpress.com&blog=2271294&post=83&subd=aryhdy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryhdy.wordpress.com/2009/08/27/masih-banyak-jalan-rusak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84b31c36157052502f223ee928c856f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ary Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Momentum Gepeng Beraksi</title>
		<link>http://aryhdy.wordpress.com/2009/08/27/momentum-gepeng-beraksi/</link>
		<comments>http://aryhdy.wordpress.com/2009/08/27/momentum-gepeng-beraksi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 11:48:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryhdy</dc:creator>
				<category><![CDATA[HOT NEWS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryhdy.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[BULAN puasa memang bulan yang dinanti-nantikan seluruh umat muslim. Wajar, setahun sekali umat muslim menjalaninya sebelum pada akhirnya merayakan hari kemenangan di hari Lebaran.
Selama sebulan penuh kita menjalani ibadah puasa, tak hanya menahan haus dan lapar seharian, tapi terpenting menahan nafsu. Memang, manusia selalu dikalahkan oleh nafsu. Makanya, di bulan suci dan penuh berkah ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryhdy.wordpress.com&blog=2271294&post=81&subd=aryhdy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>BULAN puasa memang bulan yang dinanti-nantikan seluruh umat muslim. Wajar, setahun sekali umat muslim menjalaninya sebelum pada akhirnya merayakan hari kemenangan di hari Lebaran.<span id="more-81"></span></p>
<p>Selama sebulan penuh kita menjalani ibadah puasa, tak hanya menahan haus dan lapar seharian, tapi terpenting menahan nafsu. Memang, manusia selalu dikalahkan oleh nafsu. Makanya, di bulan suci dan penuh berkah ini, kita berusaha untuk bisa mengalahkan hawa nafsu itu.</p>
<p>Namun, keunikan yang selalu datang di bulan puasa tak pernah lekang oleh waktu. Ya, keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng). Mereka selalu memanfaatkan momentum bulan puasa untuk mengais rupiah.</p>
<p>Satu sisi, keberadaan mereka terkadang membuat miris, tapi jika diperhatikan, kadang membuat jengkel dan repot aparat terkait. Betapa tidak, keberadaan mereka yang terkoordinir ini membuat &#8216;rusak&#8217; pemandangan.</p>
<p>Hampir di setiap tempat strategis, mereka beroperasi. Dengan dandanan yang ala kadarnya bahkan terbilang gembel, lusuh, dan bau mereka jadikan atribut mencari uang. Belum lagi dengan aksesoris perban atau corengan muka untuk membuat orang iba melihatnya.</p>
<p>Tapi begitulah kondisi yang ada. Semua seperti sudah menjadi kebiasaan, bahkan keharusan bagi mereka untuk menjalaninya. Ya, moga-moga saja, semua bisa diatasi.</p>
Posted in HOT NEWS  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryhdy.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryhdy.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryhdy.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryhdy.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryhdy.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryhdy.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryhdy.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryhdy.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryhdy.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryhdy.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryhdy.wordpress.com&blog=2271294&post=81&subd=aryhdy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryhdy.wordpress.com/2009/08/27/momentum-gepeng-beraksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84b31c36157052502f223ee928c856f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ary Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keanehan dalam Sidang Kasus Narkoba</title>
		<link>http://aryhdy.wordpress.com/2008/09/10/keanehan-dalam-sidang-kasus-narkoba/</link>
		<comments>http://aryhdy.wordpress.com/2008/09/10/keanehan-dalam-sidang-kasus-narkoba/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 15:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryhdy</dc:creator>
				<category><![CDATA[HOT NEWS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryhdy.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[TUJUH  terdakwa kasus ekstasi diajukan ke persidangan secara terpisah di PN Jakarta Barat. Mereka adalah Alexander alias Alex, Chen Hau Yi, Ong Tiong Foh, Siegfried Mets, Teng Tzau Chiang, Li Yi Hao dan Widya Wardana alias Wido alias Dowi.
Sidang kasus kepemilikan 600 ribu butir ekstasi yang diimpor dari Belanda kembali dilanjutkan di PN Jakarta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryhdy.wordpress.com&blog=2271294&post=79&subd=aryhdy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>TUJUH  terdakwa kasus ekstasi diajukan ke persidangan secara terpisah di PN Jakarta Barat. Mereka adalah Alexander alias Alex, Chen Hau Yi, Ong Tiong Foh, Siegfried Mets, Teng Tzau Chiang, Li Yi Hao dan Widya Wardana alias Wido alias Dowi.<span id="more-79"></span></p>
<p>Sidang kasus kepemilikan 600 ribu butir ekstasi yang diimpor dari Belanda kembali dilanjutkan di PN Jakarta Barat. Tujuh terdakwa diajukan ke persidangan secara terpisah oleh jaksa Ediyanto, Trimo, Suwanto, Ully Sondang dan Muchsin. Ketujuh terdakwa: Alexander alias Alex, Chen Hau Yi, Ong Tiong Foh, Siegfried Mets, Teng Tzau Chiang, Li Yi Hao dan Widya Wardana alias Wido alias Dowi.<br />
Seperti diketahui ratusan ribu butir pil setan disimpan di Ruko Taman Palem Blok C9 No. 62 Cengkareng. Sedang empat tersangka yang disebut-sebut sebagai bos dan keluarga Alexander dinyatakan kabur. Buronan polisi ini terdiri Bahari alias Boncel Nio, Sani alias Tomy, Ama alias Natalie dan Ana alias Farida. Sidang beberapa majelis hakim ini sempat ditunda karena para terdakwa tidak didampingi pengacara, sementara ancaman hukumannya mati.</p>
<p>Selasa (2/9) pekan lalu, masih di tempat yang sama, Siegfried Mets diajukan jaksa Suwanto. Sidang kali ini membacakan surat dakwaan. Dalam surat tuduhan jaksa, Siegfried Mets yang biasa dipanggil Fried bersama Robert Mandey diminta oleh Sani alias Tommy untuk mengurus penerimaan dan penyerahaan berupa kompresor yangt dikirim dari Belanda.</p>
<p>Singkat cerita, Fried dan Robert selanjutnya memindahkan bungkusan almunium foil yang beriisi ekstasi kedalam enam koper yang masing-masing diisi antara 10 hingga 12 bungkus. Sehingga total pil gedek adalah 69 bungkus.</p>
<p>”Kemudian terdakwa bersama Robert memindahkan bungkusan ke dalam enam buah koper yang sudah tersedia dan masing-masing diisi antara sepuluh sampai dengan dua belas bungkus,” ujar Suwanto. Sidang tersebut dipimpin oleh ketua majelis hakim Singgih Budi Prakoso dengan anggota Ebo Maulana dan Agus Sutarno.</p>
<p>Anehnya dalam dalam surat dakwaan jaksa, penyidik kepolisian tidak menjadikan Robert sebagai tersangka/terdakwa, melainkan hanya sebagai saksi. Saat tabloid ini meminta tanggapan tentang status Robert yang tidak dijadikan tersangka ataupun terdakwa jaksa Trimo maupun Suwanto, keduanya mengaku tidak tahu “Jangan tanya sama saya, tanyakan saja kepada penyidik,” ujarnya kepada Tabloid Sensor, Kamis (4/9).</p>
<p>Setali tiga uang, Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Arman Depari saat dihubungi Tabloid Sensor melalui telepon, Jumat (5/9) sore enggan mengomentari perihal Robert Mandey dengaan dalih jaringan telepon tidak tersambung dengan baik (telepon terputus-putus, red). Upaya yang dilakukan polisi dan jaksa diduga sebagai pengaburan perkara yang sebenarnnya.</p>
<p>Padahal dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang diperoleh Tabloid Sensor, Robert Mandey mengakui memasukkan 600.000 ekstasi ke dalam mobil kijang Innova nomor polisi D 1268 ZY. Namun sebelum semua ineks tersebut selesai dimasukan, keburu datang beberapa orang berpakaian preman dan mengaku dari Satuan Narkotika Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, menangkapnya.</p>
<p>Selain menangkap Robert dan Fried. Polisi juga menilikung Chen Hau Yi dan Ong Tiong Poh di kedai makan City Seafood Malaysia.Yang letaknya tidak jauh dari rumah toko Taman Palem Blok C9 No. 62 Cengkareng.<br />
Menurut keterangan lima saksi polisi yang dihadirkan JPU, terungkap ruko yang telah lama diintai sejak lama, memang rencanannya akan dijadikan sebagai transit narkoba dari Belanda yang dikirim oleh Bahari alias Boncel Nio Cs. Kelima saksi tersebut:  Mangatur Sianturi, Endang Sutisna, Tugio, Ruswanto dan Sumarno.</p>
<p>Sianturi mengatakan awalnya ia mendapat informasi bahwa rumah toko yang berada di Taman Palem akan dijadikan transit narkoba.” Selama tiga bulan saya dan tim melakukan observasi di TKP,” kata Sianturi kepada hakim pimpinan Singgih Budi Prakoso. Kemudian pada 26 Februari 2008, dia memerintahkan Endang Sutisna untuk melihat situasi. Tak lama berselang Endang melihat ada beberapa orang dengan berbahasa asing tengah berkumpul di rumah makan. Sejurus kemudian ia pun melaporkan kepada Sinaturi sebagai kepala tim penyergapan. Setelah meyakinkan bahwa buruannya adalah sindikat narkoba. Lelaki asal kota Medan itu meminta kepada rekan-rekannya untuk meringkus empat pria warga negara asing.</p>
<p>Tanpa perlawanan mereka pun akhirnya berhasil ditangkap. Menurut pengakuan terdakwa ribuan ekstasi tersebut merupakan kiriman dari Sani atau Boncel.Yang dikirim ke Indoensia melalui jalur laut. Rencanannya Fried setelah menerima pil gedek, selanjutnya didistribusikan kepada terdakwa lainnya.</p>
<p>Untuk diketahui, polisi menyita 410.000 butir ekstasi di Apartemen Taman Anggrek, Jakbar, dan 412.000 butir ekstasi lainnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Arman Depari menjelaskan, polisi mulai mengintai kelompok ini sejak awal Desember 2007. Awalnya polisi lewat sejumlah penghubung sipil di sejumlah tempat hiburan malam mendapat laporan, Siegfried yang tinggal di Jalan Kunci Nomor 18, Pulo Mas, Jakarta Timur, menjadi pemasok ”barang bagus”. Polisi lantas mengintai gerak-gerik Siegfried yang sering mendatangi sebuah ruko di Taman Surya Lima, Palem Lestari Blok D-9/35, Cengkareng, Jakbar.</p>
<p>Akan tetapi, beberapa hari kemudian, Siegfried menghilang. Ternyata ia memindahkan kegiatannya ke ruko di Perumahan Mutiara Taman Palem. Senin pukul 13.00, polisi melihat mobil boks warna kuning berhenti membelakangi ruko. Siegfried menurunkan barang-barang, mengunci ruko, dan pergi.</p>
<p>Keesokan harinya pukul 08.30, di depan Delta Spa, Taman Palem, Siegfried yang mengendarai Suzuki Escudo B 2355 QL bertemu dua mobil Innova, B 8333 MZ dan B 1268 ZY. Dia lalu pindah ke salah satu mobil Innova menuju ruko. Dari ruko, Siegfried memasukkan enam tas koper warna hitam yang ternyata berisi ekstasi yang dibungkus dalam plastik dan aluminium foil. ”Setiap kemasan berisi 50.000 ekstasi. Saat itu dia ditangkap,” kata Adang.</p>
<p><strong>Boncel Bersaudara</strong><br />
Penangkapan enam tersangka pengedar ekstasi yang membawa 600.000 butir ekstasi, Selasa (26/2) silam, di Ruko Perumahan Mutiara Taman Palem, Jakarta Barat sekaligus mengungkap, bukan hanya Boncel yang menjadi pemodal bisnis terlarang ini, tetapi juga seluruh saudaranya.<br />
Hal tersebut disampaikan Kepala Satuan (Kasat) Narkotika, Ajun Komisaris Besar Yupri, dan Kasat Psikotropika, Ajun Komisaris Besar Hendra Joni, Rabu (27/2) malam. Sebagian kalangan pengusaha hiburan malam di Jakarta yang dihubungi pun, merasa tidak asing lagi dengan nama-nama, Fani, Afon, Boncel, Natalia, Ana, dan Yanto.</p>
<p>Menurut kedua Kasat, keenam kakak beradik (nama sesuai urutan tertua) ini, sejak tahun 1992 menjadi salah satu importir ekstasi besar.  Tahun 2000-an, selain mengimpor ekstasi dari Belanda, mereka juga mengimpor sabu dari China. Meski sudah berulang kali dipenjara, mereka tidak jera. Fani misalnya, ”Dia sudah berulangkali terlibat kasus serupa. Sekarang dia mendekam di penjara Tangerang,” ungkap Hendra.</p>
<p>Demikian pula Afon yang kini di penjara Nusa Kambangan. ”Selain sudah berulangkali &#8216;masuk&#8217; dengan kasus serupa, dia juga pernah dipenjara karena memalsu kartu kredit,” lanjutnya.</p>
<p>Seingat Hendra, barang bukti  dalam kasus Narkoba yang mengantar Afon ke Nusa Kambangan, juga tidak sedikit dibanding kasus Boncel. Meski demikian, ”Diantara saudara-saudaranya, Boncel memang paling sukses. Sukses menimbun keuntungan, dan sukses lolos dari aparat,” sela Yupri.</p>
<p>Ana, adik Boncel, dikenal sebagai importir dan pengedar sabu terbesar di Jakarta. ”Jaringan distributornya tidak banyak, tetapi omsetnya besar,” kata Hendra. Yang sedang ”off” urusan Narkoba saat ini, lanjutnya, baru Yanto. Yanto baru saja keluar dari penjara.</p>
<p>Dalam kasus 600.000 butir ekstasi, kata Yupri mengutip pengakuan sejumlah tersangka, pemodalnya Boncel, Natalia, dan Sani alias Ahba, Warga Negara Malaysia. ”Uang Boncel lebih banyak dari uang Natalia. Oleh karena itu, yang mengurus semuanya, Natalia. Bahkan sampai urusan mencari Ruko kontrakan,” ujar Yupri.</p>
<p>Hendra menambahkan, penangkapan keenam tersangka&#8211;Siegfried Mets Warga Negara Belanda, Ong Tiong Yoh Warga Negara Singapura, Chen Hoa Yi, Tzu Chiang, dan Li Hao Yi Warga Negara Taiwan, Selasa lalu, membuat para grosir ekstasi rugi. Sebab, bisnis Narkoba selalu dibayar di muka.</p>
<p>”Mereka sudah terlanjur mentrasfer uang ke rekening Boncel atau Nathalia sebesar minimal Rp 60 milyar, tapi ternyata barang yang hendak diantar, kami sita,” ucap Hendra. Kedua Kasat mengakui, sulit memburu dan menangkap Boncel yang selain memiliki modal besar, juga memiliki ”jam terbang tinggi” dengan dukungan lingkungan yang kuat. <strong>(tabloid sensor)</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryhdy.wordpress.com/79/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryhdy.wordpress.com/79/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryhdy.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryhdy.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryhdy.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryhdy.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryhdy.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryhdy.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryhdy.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryhdy.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryhdy.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryhdy.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryhdy.wordpress.com&blog=2271294&post=79&subd=aryhdy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryhdy.wordpress.com/2008/09/10/keanehan-dalam-sidang-kasus-narkoba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84b31c36157052502f223ee928c856f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ary Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bisnis Mafia Pengemis</title>
		<link>http://aryhdy.wordpress.com/2008/09/10/bisnis-mafia-pengemis/</link>
		<comments>http://aryhdy.wordpress.com/2008/09/10/bisnis-mafia-pengemis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 15:54:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryhdy</dc:creator>
				<category><![CDATA[HOT NEWS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryhdy.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[SAPA sangka pengemis, anak jalanan, gelandangan menjadi komoditi menghasilkan. Buktinya, sudah berpuluh-puluh tahun hal itu dilakukan, dan nyatanya semua dikoordinir oleh segelintir orang yang memang memanfaatkan jasa mereka untuk mengeruk rupiah. Memang, gelandangan dan pengemis (gepeng) menjadi musuh Pemerintah Provinisi (Pemprov) DKI Jakarta.
 Berulangkali keberadaan mereka diberangus Tramtib, namun tak perlu makan waktu lama, gerombolan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryhdy.wordpress.com&blog=2271294&post=77&subd=aryhdy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SAPA sangka pengemis, anak jalanan, gelandangan menjadi komoditi menghasilkan. Buktinya, sudah berpuluh-puluh tahun hal itu dilakukan, dan nyatanya semua dikoordinir oleh segelintir orang yang memang memanfaatkan jasa mereka untuk mengeruk rupiah. Memang, gelandangan dan pengemis (gepeng) menjadi musuh Pemerintah Provinisi (Pemprov) DKI Jakarta.</p>
<p><span id="more-77"></span> Berulangkali keberadaan mereka diberangus Tramtib, namun tak perlu makan waktu lama, gerombolan gepeng itu dapat kembali beroperasi.</p>
<p>Jika beruntung, mereka mampu lolos dari kejaran Tramtib, dan jika apes, terpaksa meringkuk di Panti Rehabilitasi milik Dinas Sosial Pemprov DKI Jakarta. Namun, itu pun tak butuh waktu lama, sebab nyatanya mereka yang tertangkap dapat kembali menghirup udara bebas berkat jaminan sang koordinator yang menjadi mafia pengemis.</p>
<p>Sebagian gelandangan dan pengemis (gepeng) yang membanjiri wilayah Pemprov DKI Jakarta bukanlah murni pengemis dan orang sangat miskin seperti dibayangkan. Apalagi jika melihat fisik mereka yang segar bugar, hanya berbalut pakaian kumel dan sedikit asesoris wajah yang bisa membuat orang iba melihatnya.</p>
<p>Kebanyakan dari mereka memang kaum pendatang yang sengaja memanfaatkan momentum bulan puasa untuk mengais rejeki. Kendati gambaran pahit dikejar Tramtib sudah terbayang, tapi semua itu bukan halangan. Mereka rela berpeluh dan debu hanya untuk menjadi pengemis.</p>
<p>Ibarat sebuah perusahaan, keberadaan gepeng ini ternyata memiliki ‘manajemen’ tersendiri. Mereka sengaja dipekerjaan dengan kewajiban menyetor penghasilan kepada ‘bos’ mereka sebesar Rp15 ribu hingga Rp 20 ribu per hari.</p>
<p>Dalam keseharian mereka juga diberi mess yang lebih cocok dikatakan barak penampungan, dan diberi makan.  Tidak tanggung-tanggung, tiap suplier mampu menyetok hingga 150 gepeng. Kebanyakan dari mereka kaum urban yang notabene kantong miskin di beberapa daerah, seperti Indramayu, Karawang, hingga Garut, Jawa Barat. Belum lagi mereka yang datang dari kawasan pantai utara Jawa Barat seperti Cirebon dan Pemalang, Brebes dan Tegal dan Bumiayu, Jawa Tengah.</p>
<p>&#8220;Mereka direkrut bergelombang. Kami susah menjaringnya. Sudah ditertibkan, dan menjamur lagi,&#8221; ucap Syahrul Effendi, Walikota Jakarta Selatan ketika merazia gepeng, beberapa waktu lalu.<br />
Nyatanya, gelombang pengemis itu merata di hampir seluruh wilayah DKI Jakarta. Tak hanya di Jakarta Selatan, tapi juga Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, serta Jakarta Barat. Jumlahnya pun semakin tak terkendali saat memasuki bulan puasa.</p>
<p>Praktis hampir di sudut strategis kota selalu terisi, dan memang mereka oleh koordinator mereka sengaja ditempatkan di berbagai tempat strategis, termasuk masjid, pusat keramaian dan lainnya.<br />
Terkadang, para pengemis membentuk pagar betis menengadahkan tangan mencari ‘hujan’ receh, meski terkadang sedikit memaksa. Terlepas dari mana datangnya para gepeng itu dan hak untuk tinggal di Jakarta, pemandangan ini mengingatkan Prancis zaman Voltaire atau China era Mao Tse Tung.</p>
<p>Kota-kota cantik di negeri itu diserbu pengemis karena di tempat asal mereka sudah tidak menghasilkan akibat kemiskinan yang kuat melanda. Persamaanya dengan Jakarta orde Fauzi Bowo, kebijakan penguasa tetap sama. &#8220;Saya akan tertibkan. Mereka belum punya Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI Jakarta,&#8221; seloroh Bang Foke panggilan akrab Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo dengan gaya khasnya.</p>
<p>Bahkan, Fauzi Bowo kembali mengingatkan warganya untuk tidak memberikan uang kepada pengemis di jalanan. Karena hal tersebut akan memberi untung oknum yang mengorganisasi para pengemis itu. &#8220;Kita mengimbau warga sesuai surat edaran agar tidak memberikan uang kepada pengemis. Kami merasa prihatin bahwa masih banyak mereka yang berkekurangan, tapi tidak ikhlas jika orang ini dimanfaatkan orang lain,&#8221; katanya di Balaikota Jakarta, baru-baru ini.</p>
<p><strong>Menjelang Ramadan</strong><br />
Pulan Ramadan, memang bulan penuh hikmah. Bulan kasih sayang, dan bulannya bagi kaum muslim berlomba-lomba mencari kebajikan. Momentum ini sengaja dimanfaatkan mereka kaum pengemis untuk mengais rejeki.<br />
Ribuan pengemis dari luar kota didatangkan oleh oknum yang mengeruk keuntungan besar dari bagi hasil mengemis. &#8220;Pagi-pagi dengan menggunakan kendaraan bak terbuka mereka diantar ke suatu tempat, ada yang organisir. Baru pada malam hari mereka dijemput,” jelas Foke.</p>
<p>Jika melihat keberadaan mereka, memang miris. Apalagi, tak hanya anak di bawah umur, mereka (pengelola) juga menyewakan bayi sebagai alat memperiba.</p>
<p>Kendati demikian, Gubernur menegaskan bahwa pihaknya akan tetap melakukan penertiban seperti yang telah dituangkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum (Tibum). Isinya antara lain larangan untuk berjualan kaki lima di tempat yang dilarang oleh Pemprov DKI Jakarta seperti di trotoar jalan, mengorganisir atau menyuruh orang lain untuk jadi pengemis ataupun pengamen.</p>
<p>Sanksi pidana disebut Gubernur akan diberikan kepada pihak yang melanggar, termasuk warga yang memberikan uang kepada pengemis dan terutama kepada oknum yang mengorganisir pengemis itu.<br />
Hanya saja, sayangnya Perda tersebut kurang disosialisasikan. Sehingga, keberadaannya tidak menjadikan Perda tersebut suatu keharusan. Bahkan, tak sedikit pula warga Jakarta yang mengetahui isi dan sanksi dari Perda dimaksud. Ditambah lagi dorongan hati untuk memberikan sedekah kepada yang tak punya menjadi dalil tersendiri masyarakat untuk tetap memberikan sedekah atau uang kepada pengemis.</p>
<p>Padahal, jika Pemprov lebih menitikberatkan pada sosialisasi Perda itu, terlebih ancaman sanksi kepada pelanggar denda Rp 100.000 sampai Rp 20 juta atau kurungan selama dua bulan penjara, mungkin ‘ngeri’ bagi masyarakat memberikan sedekah kepada pengemis.</p>
<p>Di bulan puasa ini, dari hari ke hari jumlahnya terus bertambah. Kendati pun beberapa pintu memasuki kota Jakarta dijaga ketat, nyatanya tetap saja Pemprov tak mampu menghalau kedatangan mereka. Apalagi jika melihat fisik dan alasan dari mereka datang ke Jakarta yang bukan untuk mengemis.</p>
<p>Dalam catatan pihak LSM pemerhati masalah sosial, sepekan menjelang puasa, jumlah mereka terus bertambah, sekitar 30 hingga 50 gepeng mendatangi kota ini, sehingga terlihat pemandangan yang berbeda dari hari biasa.</p>
<p>Ironisnya, walau aparat terus melakukan razia, tetap saja mafia penyedia gepeng tidak dapat diberantas. Pantauan Tabloid Sensor di beberapa tempat, masih saja para gepeng berkeliaran didaerah strategis. Contohnya, di jembatan penyeberangan Cawang UKI, Jakarta Timur dan Gajah Mada, Jakarta Pusat.</p>
<p>Pengemis memadati sisi jembatan itu dengan pakaian compang-camping serta kobokan kecil sebagai media meminta-minta. Nyaris di setiap pelosok dan keramain menjadi ladang bagi mereka mencari rejeki.</p>
<p><strong>Dijadikan Profesi</strong><br />
Nampaknya mengemis memang menjadi profesi. Contohnya Saodah (54), seorang ibu yang selalu duduk di bawah kolong jembatan Slipi, Jakarta Barat dan Asep (31) lelaki buta dan cacat fisik didaerah Cawang UKI, Jakarta Timur. Di pagi hari ibu ini bersama seorang bayi duduk di atas trotoar. Kepulan asap knalpot dan teriknya sinar matahari menjadi hal biasa.<br />
Sedangkan Asep, lelaki buta setengah baya ini sejak pagi telah berada diatas jembatan penyeberangan sambil memegang kobokan berukuran kecil ditangannya. Terlihat seseorang yang masih sehat mengantarnya di tempat itu. Dengan demikian keberadaan para pengemis ini ada yang mengorganisir dan ada oknum yang memperalatnya. Ya, begitulah kehidupan mereka untuk mencari nafkah sehari-hari.</p>
<p>Mereka rela duduk berjam-jam. Sesekali menengadahkan tangannya, mengiba kepada para pejalaan kaki yang berlalu lalang dihadapannya. Memang, tak sedikit pejalan kaki yang lewat merasa iba dan merogoh kantong untuk memberi sedekah. Tapi, tak sedikit pula yang berlalu begitu saja.</p>
<p>Memang, kebanyakan dari mereka berpenampilan tak ubahnya orang sehat. Bahkan, untuk katagori cacat fisik bisa dihitung, lebih banyak kepada mereka yang justru berbadan sehat. Entah karena malas mencari kerja, atau karena faktor lain yang menjadikan mereka berprofesi seperti itu.</p>
<p>Sebenarnya akan lebih aman seandainya sedekah disalurkan kepada tetangga kanan kiri yang benar-benar membutuhkan, atau langsung disalurkan ke masjib atau panti asuhan ketimbang memberikan sedekah kepada pengemis. <strong>(tabloid sensor)</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/aryhdy.wordpress.com/77/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/aryhdy.wordpress.com/77/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryhdy.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryhdy.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryhdy.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryhdy.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryhdy.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryhdy.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryhdy.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryhdy.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryhdy.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryhdy.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryhdy.wordpress.com&blog=2271294&post=77&subd=aryhdy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryhdy.wordpress.com/2008/09/10/bisnis-mafia-pengemis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/84b31c36157052502f223ee928c856f7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ary Hidayat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>